Mahasiswa Teknik Elektro USB YPKP Kembangkan Antena Logo Kampus Berbasis Tekstil untuk Wearable Technology

Bandung – Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Sangga Buana (USB) YPKP, Sandyha Fadilla Salondo, mengembangkan inovasi antena berbahan tekstil yang dirancang menyerupai logo USB YPKP. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari penelitian tugas akhirnya sekaligus langkah awal menuju pemanfaatan antena fleksibel untuk aplikasi wearable technology.

Penelitian bertajuk “Evaluasi Perbandingan Metode Copper Plate dengan Perekat Tekstil dan Bordir Benang Konduktif pada Perancangan dan Realisasi Antena Tekstil” ini dilakukan di bawah bimbingan Dr. Hartuti Mistialustina, S.T., M.T., dosen Teknik Elektro Fakultas Teknik USB YPKP, bersama Dr. Eng. Achmad Munir, S.T., M.Eng. dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI ITB).

Antena yang dikembangkan menggunakan material kain denim dan bekerja pada frekuensi resonansi 2,4 GHz. Frekuensi tersebut menjadi salah satu frekuensi yang banyak digunakan pada berbagai sistem komunikasi nirkabel. Pada tahap pengembangan saat ini, tim masih menempatkan perangkat tersebut sebagai prototipe generasi pertama yang akan terus disempurnakan sebelum diarahkan menuju aplikasi wearable device yang lebih kompleks.

Dalam penelitian tersebut, Sandyha membandingkan dua metode pembuatan antena. Metode pertama menggunakan copper plate atau lembaran tembaga yang diaplikasikan pada material tekstil. Metode kedua menggunakan teknik bordir dengan benang konduktif, sehingga antena dapat dibuat lebih fleksibel dan lebih menyatu dengan material pakaian.

Kedua metode telah berhasil diterapkan pada kain denim dan menghasilkan resonansi pada frekuensi 2,4 GHz. Meskipun demikian, pengembangan masih terus dilakukan untuk meningkatkan sejumlah parameter performa antena lainnya. Pada metode bordir, penggunaan benang konduktif juga menghadirkan tantangan tersendiri karena material tersebut masih harus diperoleh melalui impor.

Penelitian ini tidak hanya mengejar fungsi teknis antena. Tim juga menghadapi tantangan untuk mempertahankan nilai estetika dan identitas visual USB YPKP. Bentuk lingkaran yang menjadi elemen utama logo USB YPKP perlu diterjemahkan menjadi struktur antena tanpa menghilangkan kemampuan perangkat dalam bekerja sesuai frekuensi yang ditargetkan.

Pada prototipe berbasis copper plate, identitas logo diterapkan melalui material dekoratif pada permukaan antena. Sementara pada versi bordir, tim merencanakan pengembangan lanjutan melalui kombinasi benang konduktif berwarna silver sebagai struktur utama antena dan benang bordir berwarna untuk membentuk elemen dekoratif logo USB YPKP. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menghasilkan antena yang tetap berfungsi sebagai perangkat komunikasi sekaligus memiliki tampilan yang lebih fleksibel dan menarik ketika diaplikasikan pada pakaian.

“Ini masih early step. Prototipe yang dihasilkan kami sebut sebagai generasi pertama. Masih jauh dari sempurna, tetapi sudah menunjukkan performa yang cukup baik pada frekuensi resonansi 2,4 GHz. Ke depan kami berharap dapat mengembangkannya untuk sistem wearable device yang lebih kompleks,” jelas Dr. Hartuti Mistialustina.

Pengembangan antena berbasis logo institusi sendiri bukan konsep yang sepenuhnya baru dalam penelitian antena. Namun, setiap institusi memiliki bentuk logo yang berbeda sehingga masing-masing menghadirkan tantangan desain dan karakteristik teknis yang berbeda. Tim melihat karakter unik logo USB YPKP sebagai peluang untuk mengembangkan inovasi antena tekstil yang memiliki identitas institusi sekaligus fungsi teknologi.

Penelitian ini juga menjadi bagian dari kolaborasi akademik tingkat nasional dengan melibatkan Universitas Sangga Buana YPKP, Institut Teknologi Bandung, serta Telkom University dalam pengembangan dan eksplorasi teknologi antena tekstil. Salah satu pendekatan yang turut dikembangkan adalah penggunaan perekat tekstil di antara lapisan kain denim, yang digunakan untuk menjaga struktur material tetap kompak tanpa mengurangi fleksibilitasnya.

Selain menjadi tugas akhir mahasiswa, penelitian tersebut menjadi salah satu luaran dari Pusat Studi Wearable Technology USB YPKP, yang baru diresmikan beberapa bulan sebelumnya. Pusat studi tersebut diarahkan untuk mengembangkan berbagai riset dan inovasi yang mengintegrasikan teknologi elektronik dengan perangkat yang dapat dikenakan atau wearable technology.

Hasil penelitian juga mulai didiseminasikan melalui forum ilmiah internasional. Tim telah mengirimkan artikel ke The 20th International Conference on Telecommunication Systems, Services, and Applications (TSSA), 2026 dan telah memperoleh status accepted. Artikel lainnya juga direncanakan akan diajukan ke IEEE Microwaves, Antennas and Propagation Conference (MAPCON) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026. Kedua publikasi tersebut diarahkan pada prosiding internasional terindeks Scopus dengan afiliasi Wearable Technology Center of Study USB YPKP.

Pengembangan ini menjadi langkah awal bagi USB YPKP dalam memperluas penelitian di bidang wearable technology. Melalui integrasi fungsi teknis, fleksibilitas material, dan identitas visual institusi, inovasi tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan menuju perangkat tekstil cerdas yang lebih aplikatif dan memiliki potensi digunakan pada berbagai sistem komunikasi maupun pemantauan berbasis wearable device.

(Biro Humas, Protokoler, dan Media)