Bandung – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Jawa Barat melakukan penelitian terhadap sejumlah lembaga penyiaran media elektronik di wilayah Majalengka dan Cirebon, penelitian dilakukan dengan mengandeng Team Peneliti dari Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Sangga Buana YPKP.

Proses penelitian tersebut diselenggarakan melalui Focus Group Discussion (FGD) dengan menggandeng Fakultas Pertanian Universitas Majalengka sebagai penyedia tempat dan fasilitasi acara, Bertempat di Gedung Rektorat Universitas Majalengka, FGD yang bertema “Strategi Media Penyiaran Dalam Mengelola Program Siaran Sehat Bagi Publik” ini dihadiri oleh rekan-rekan media televisi dan radio wilayah Majalengka dan Cirebon. Selasa (5/6).

IMG_1808
suasana focus group discussion (FGD) di gedung rektorat Universitas Majalengka , selasa 5 Juni 2018

Acara dibuka dengan sambutan dari  Dekan Fakultas Pertanian Universitas Majalengka, Dr.  Sri Ayu Andayani, SP., MP. Dalam pembukaanya Dr. Sri Ayu mengatakan bahwa kita perlu memacu media siaran untuk menyajikan siaran yang edukatif, memberi informasi yang bermanfaat, dan menghibur secara sehat.

Ketua tim peneliti Witri Cahyati S,Sos, M,Si. Menjelaskan, FGD ini digelar untuk mendapatkan input dan masukan dari para pelaku media penyiaran, berdasarkan fakta saat ini bahwa banyak informasi yang belum jelas kebenarannya atau hoax yang banyak beredar di media online terutama di media sosial.

Sehingga, input yang didapatkan dari para pelaku media penyiaran  ini akan diolah menjadi sebuah program yang outputnya akan diserahkan kepada KPID Provinsi Jawa Barat untuk merumuskan regulasi dan kebijakan terhadap dunia penyiaran yang sehat.

“Kami melakukan studi penelitian terhadap lembaga penyiaran di Jawa Barat, khususnya diwilayah Majalengka dan Cirebon. Hasil dari ini akan kami sampaikan ke KPID Jawa Barat untuk merumuskan regulasi dan kebijakan untuk mendorong Lembaga penyiaran untuk membuat program siaran yang sehat dan mencerahkan,”Ujarnya.

Salah satu peneliti, Roni Tabroni S,Sos.,M,Si. Menyebutkan, prediksi perkembangan media penyiaran kedepannya akan tertuju pada wilayah III Cirebon, khususnya di Majalengka dengan hadirnya Bandara Internasional. Sehingga kata Roni, untuk mengantisipasi itu, diperlukan sebuah rumusan dan kebijakan untuk mewujudkan produk siaran yang sehat dan mencerdaskan masyarakat.

Peneliti lainnya, Nunung Sanusi S,Sos.,M,Si menambahkan, beberapa poin yang diinput dari pelaku media penyiaran ini diantaranya terkait definisi konten penyiaran sehat, serta strategi media penyiaran untuk membuat konten penyiaran yang sehat.

Pesatnya perkembangan teknologi sekarang ini, berbanding lurus dengan pertumbuhan lembaga penyiaran di Indonesia. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat dalam menyaring setiap informasi dan muatan siaran yang sesuai dengan kebutuhan. Namun pada prinsipnya, jika masyarakat terlibat maka pengawasan terhadap lembaga penyiaran akan lebih baik, Bahkan akan mendorong dihasilkannya produk siaran yang sehat dan lebih berkualitas.

Roni Tabroni selaku peneliti sekaligus moderator FGD menyimpulkan dilihat dari aspek kredibilitas narasumber untuk menyampaikan sebuah informasi yang sehat , yang kedua terkait dengan pentingnya menyampaikan data dan fakta secara utuh walaupun dalam dunia media dikenal dengan framing , kita akan membingkai sebuah peristiwa sehingga disatu sisi ada yang diangkat namun disisi lain ada yang kita abaikan, itu semua tergantung kepentingan medianya.

“Yang disebut siaran sehat itu adalah menyampaikan data, fakta apa adanya bahkan kalo bisa serratus persen itu disampaikan kepada public jadi tidak setengah-setengah kita menyampaikannya , apa yang kita temukan itu yang kita sampaikan” Pungkasnya.

(Feby Kurniawan/Humas)